Sebuah Perayaan Cerita

Saya sudah menyiapkan segelas kopi demi mengiringi tarian mata saya yang sibuk menjamahi setumpuk file karya-karya yang masuk ke email saya. Ya, segelas – bukan secangkir. Perlu saya beritahukan, bahwa ini sungguh sebuah aktivitas yang cukup menyenangkan, meski memakan waktu yang agak lama. Tapi saya sudah menyiapkan semuanya; stamina, kesabaran, dan tentu saja rasa antusias!

Semula saya berpikir bahwa saya akan menerapkan aturan dan proses penyaringan yang ketat. Hanya karya-karya memikat (menurut ukuran dan selera saya) yang akan saya pilih untuk masuk ke dalam Antologi #proyekcinta 2013. Namun kemudian saya berpikir ulang. Ini bukanlah benar-benar semacam perlombaan yang mengelu-elukan satu pemenang dan membumihanguskan yang lainnya. Ini adalah sebuah ajang perayaan untuk siapa saja yang antusias dan bersemangat menulis, membuat karya. Sebuah ajang yang bermanfaat untuk sharing, saling belajar. Maka itu, saya memutuskan untuk memberi kesempatan semua yang sudah mengirimkan karya Flash-Fiction (FF) – kecuali mereka yang terdiskualifikasi karena menyimpang berat dari aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Meski demikian, saya merasa terharu karena sebagian besar dari mereka yang terdiskualifikasi pun mengirimkan kembali karya lainnya yang sesuai ketentuan. Maka, inilah kumpulan semangat positif yang kemudian saya kemas menjadi sebuah produk bernama Antologi #proyekcinta 2013.

Total ada 72 karya yang berhasil lulus dalam ajang #proyekcinta ini. Kemudian saya sengaja mengklasifikasikannya dalam beberapa kategori. Semula ada tiga kategori; yakni kategori terbaik, kategori baik, dan kategori sedang. Pertimbangan klasifikasi kategori ini adalah untuk memberi kesempatan saling belajar dan berefleksi. Bagaimanapun, perlu ada standar atau tolok ukur supaya proses pemelajaran terarah dan terfokus. Ada 20 karya yang masuk dalam kategori terbaik – meski sungguh, tidak mudah menentukan klasifikasi macam ini. Sisanya masuk dalam kategori baik dan kategori sedang. Namun kemudian saya berubah pikiran, untuk menggabungkan saja kategori baik maupun sedang – sehingga hanya ada dua kategori dalam Antologi #proyekcinta 2013 ini. Alasannya, untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan.

Ada banyak pertimbangan dalam menentukan kategori bagi masing-masing karya. Pertimbangan teratas adalah orisinalitas dan keunikan ide, serta bagaimana mengeksekusi ide tersebut, terutama terkait dengan diksi maupun teknik penulisan, serta sentuhan rasa yang ditimbulkan. Yang terbaik tentu saja yang memenuhi semua kriteria tersebut.

Kemudian saya meminta satu naskah lagi bagi mereka yang masuk dalam kategori terbaik, memberi kesempatan lebih banyak, – anggaplah sebagai bagian dari reward. Meski demikian, saya memberlakukan sistem verifikasi yang jauh lebih selektif lagi. Dengan berat hati, harus saya sampaikan bahwa ada beberapa yang tidak lulus seleksi kedua, namun tidak sedikit pula yang berhasil meluluskan kedua karyanya sekaligus.

Walau bagaimanapun, saya ingin mempersembahkan sebuah produk karya yang kompak. Oleh karena itu, semua karya yang masuk dalam Antologi #proyekcinta 2013 ini telah mengalami proses editing. Selama proses editing, adakalanya saya menemui banyak hal dan kesalahan; misalnya tentang penulisan ejaan maupun tanda baca yang tepat, bahkan kapan harus menggunakan huruf besar atau kecil. Yang sedikit memusingkan, ada pula yang menyuguhkan satu paragraf tanpa spasi! Saya rasa, mungkin kefatalan yang merepotkan ini dikarenakan format media yang dipakai.

Kendati demikian, saya sungguh berharap pada para penulis sekalian untuk selalu cermat dan jangan pernah malas membaca karya berulang-ulang sebelum dikirimkan. Selain itu, saya pun menyarankan untuk membandingkan karya yang telah tercantum dalam Antologi #proyekcinta 2013 ini dengan karya asli (yang telah diposting di blog masingmasing), mencermati setiap bagiannya, dan menemukan perbedaan-perbedaan (besar dan kecil). Setidaknya, hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk sebuah pandangan baru.

Kendati demikian, saya pun amat menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keluputan dikarenakan keterbatasan saya; baik itu energi, waktu, maupun kemampuan. Oleh karena itu, mohon maaf sekaligus mohon maklum jika masih terdapat banyak kesalahan dan hal-hal yang kurang berkenan, baik secara sengaja atau tidak sengaja saya lakukan.

Selain menggairahkan semangat menulis, seperti biasa, saya pun sedapat mungkin menghidupkan semangat untuk nge-blog. Kegiatan #blogwalking menjadi salah satu manifestasi saya untuk terus mendorong siapapun – terutama yang gemar dan ingin terus mengasah keterampilan menulisnya. Selalu saya tekankan berulang-ulang di banyak kesempatan bahwa banyak hal dan manfaat positif yang didapat dari nge-blog maupun blogwalking. Jadi, sesungguhnya tidak ada alasan mengapa hingga tak memiliki blog. Tak ada yang perlu dikhawatirkan atau membuat berkecil hati ketika memasuki dunia blog. Peran media sosial dewasa ini semakin memudahkan kita untuk menghidupkan komunitas melalui blog. Sebuah komunitas yang memiliki gairah dan ketertarikan yang sama, yang saling mendukung satu sama lain.

Antologi #proyekcinta 2013 ini pun adalah salah satu manifestasi gerakan literasi, termasuk blogging. Saya merasa amat gembira karena rupanya banyak sahabat yang memiliki rasa antusias yang tinggi, dan saya tahu betul bahwa mereka adalah orang-orang yang baik, terutama mereka yang berpartisipasi dalam ajang #proyekcinta ini. Saya memberikan applause dan ucapan terima kasih sebesarnya atas kebaikan, semangat, dan kerja keras mereka.

Bagaimanapun, lahirnya Antologi #proyekcinta 2013 ini patut dirayakan dengan senyuman dan semangat baru untuk lebih giat menulis, blogging, dan saling mendukung sesama yang memiliki satu gairah atau ketertarikan. Sebagai sebuah media, semoga karya ini bermanfaat. Selamat membaca!

Salam hangat,

Bintang Berkisah
http://bintangberkisah.wordpress.com

Advertisements

Wanita Bercahaya Rembulan

 Oleh: @yogipambudi

Melihatnya sungguh menyejukkan hati. Ah, seandainya semua bercahaya seperti dia, tanpa keraguan, mata ini tak akan pernah mengedip. Tidak akan pernah lelah memandang. Wajahnya yang selalu berseri memancarkan sinar saat kumenatap. Menenangkan jiwa.

Namanya Sri, wanita muda yang selalu melemparkan senyum ketika kami berpapasan. Berkali-kali ia menodongkan senyum padaku, dan berkali-kali juga aku hampir mati. Semakin sering ia tersenyum, wajahnya semakin bercahaya. Seperti rembulan saat tanggal belasan. Purnama.

Sekarang ia ada di seberang. Ia sedang duduk manis, semanis bunga anggrek yang tumbuh bersama kokohnya pohon beringin. Malam ini tidak ada bulan di langit, hanya taburan bintang. Sudah cukup, karena ia adalah bulan untuk malam ini, menyinari setiap detak jantungku yang bergemuruh kencang.

Bosan. Aku hanya memandang ia setiap hari, atau dilempar senyumnya saja. Mungkin sekarang saatnya untuk membuka jalinan. Aku sudah tak kuat lagi. Hatiku sudah tidak bisa menampung timbunan perasaan selama ini. Jahanam!

Ia duduk di seberang. Aku mengintip malu. Pelan perlahan, kukumpulkan semangat, keburu menjadi basi setiap rasa di hati. Ya, sebelum kadaluarsa. Kucoba kuatkan otot kaki demi melangkah menuju cahaya rembulan. Sinar surga.

Langkah pertama sungguh berat, layaknya pertama kali belajar jalan. Tapi kupaksakan. Langkah kedua mulai ringan, tapi rasanya bayanganku masih bisa mengejar. Lebih baik, daripada hanya duduk dan sembunyi mencuri waktu untuk meliriknya. Langkah berikut dan seterusnya seperti menguras tenaga, seolah tanah yang kupijak berubah menjadi lumpur, menghisap jiwa atau umurku. Dan kakiku terus bergerak menuju rembulan.

Jarak telah menipis. Aku dan wanita bercahaya rembulan semakin dekat. Ia menoleh, memasang lengkung bibir di wajah. Cahaya semakin menyelimuti seluruh parasnya. Silau. Aku hanya menunduk, berhenti sejenak. Cahaya itu berhasil merenggut keberanianku, menghilangkan semua ambisi. Sekarang aku terdiam. Berdiri kaku, membatu.

“Hai,” Sri menyapaku. Sekejap aku tak bergerak, mulutku terkunci. Tanganku terangkat, mencoba membalas.“Mau ke mana?” suara yang lembut membelai telingaku. Aku masih tak berkata-kata. Kakiku pun rasanya mati.

“Eeee… cuman mau cari angin,” jawabku gugup.

“Nanti masuk angin, lho,” ia memiringkan kepala dan sedikit memamerkan lesung pipitnya. Ah, lagi-lagi aku tak bernyawa dibuatnya. Habis sudah.

Kakiku mulai malu melangkah. Tapi jangan salah! Kaki ini masih melangkah walau sejengkal. Perempuan itu menatapku heran, dan aku malu setengah mampus. Aku sudah tak bisa melangkah lagi. Lebih baik aku ucapkan saja dari sini. Teriak dengan suara lantang bukan menjadi masalah, demi merebut cahaya yang menyinari masa depanku. Cahaya yang akan menentramkan. Setiap kata akan terlontar dari mulut ini. Masa bodo dengan jarak. Toh, cahayanya sudah menusukku sedari awal.

“A-a-a…” Suaraku yang patah-patah mulai keluar dari mulut.

“Hai!” entah dari mana seorang laki-laki datang menyapa Sri.

“Akhirnya datang juga!” Sri memeluk lelaki itu. Mereka bergandengan, berjalan beriringan.

Kulihat mereka memakai cincin emas di jari manisnya masing-masing. Seketika cahaya rembulan di wajah Sri sirna. Gelap yang sepi kembali menemaniku. ***

 

Visit Blog : http://yopamisme.blogspot.com

Terus atau Berhenti

Oleh : @noichil 

Pernahkah engkau merasa ingin terus berjalan ketika semesta berbisik pada hatimu untuk berhenti?

***

Warna merah pada lampu lalu lintas masih menyala. Di dua ujung zebra cross, para pejalan kaki berjejer dan menunggu. Beberapa orang mengamati lampu seolah melamatkan mantera agar warnanya segera berubah menjadi hijau. Sedangkan yang lain lebih memilih menikmati lalu lalang kendaraan untuk mengusir rasa bosan. Mungkin sekadar memerhatikan merk mobil-mobil mewah yang belum mampu mereka punya, atau teringat kekasih lama yang mengendarai kendaraan yang sama.

Aku di sini. Di salah satu ujung zebra cross. Berdiri dan menahan napas ketika melihat punggungnya beranjak pergi. Di antara kendaraan yang berlalu lalang dan jajaran orang di seberang jalan, aku melihat ia melangkah dan menjauh. Mungkin, tidak akan kembali.

Sial. Lampu merah ini tidak juga berganti. Hijau. Segeralah engkau menjadi hijau.

Tapi manteraku sia-sia.

Semesta menyuruhku untuk berhenti. Tapi jika aku berhenti, maka cintanya takkan pernah kumiliki.

Akhirnya aku berlari. Kuterobos lampu merah tanpa menoleh ke belakang lagi. Lalu sebuah mobil van terlambat berhenti. Tubuhku terpental. Dan mati.

***

Ah tidak … tidak … tidak. Itu bayangan burukku saja. Selalu ada jalan keluar. Selalu ada pilihan selain terus atau berhenti.

Aku masih berdiri di sini. Di ujung zebra cross sambil melirik lampu yang berpendar. Masih merah. Kendaraan masih berlalu lalang di jalan raya yang membentang di hadapan.

Di seberang sana, orang-orang masih berjajar dan menunggu. Dan oh… itu dia. Di trotoar di seberang jalan raya. Aku masih bisa melihat punggungnya beranjak. Berlalu dan pergi.

Ah! Bagaimana ini? Aku tidak pernah mengira, menyeberang jalan akan menjadi serumit ini. Terus atau berhenti? Menyerah atau mati?

Aku mencari-cari celah waktu yang tepat. Pasti akan ada saat di mana jarak antara kendaraan itu meregang dan aku bisa menyeberang sesegera mungkin.

Dua mobil baru saja lewat. Lalu tiga motor. Di belakangnya, ada satu mobil lagi yang sama sekali tidak memberi jarak.

Argh! Kenapa, sih, lampu di zebra cross tidak ada yang berwarna kuning? Apakah pilihannya benar-benar hanya terus dan berhenti? Lalu kapan aku harus berhati-hati?

Ragu-ragu. Aku pun takut melangkahkan kakiku. Bayangan tubuhku sendiri yang terpental dan berdarah-darah sama sekali bukan skenario yang menyenangkan. Tapi terlambat sepersekian detik saja, aku kehilangan cintanya.

Lihat. Punggungnya hampir menghilang. Danang segera menghilang.

Tidak ada waktu lagi. Mungkin, semesta menyuruhku untuk berhenti. Tapi jika aku tetap di sini, maka cinta Danang takkan pernah kumiliki.

Akhirnya aku berlari. Kuterobos lampu merah tanpa menoleh ke belakang lagi. Lalu sebuah mobil van terlambat berhenti. Tubuhku terpental. Dan mati.

***

Aku membuka mata. Tiba-tiba rasa pusing meraja di kepala. Dahi dan tubuhku basah oleh keringat. Dadaku disesaki rasa takut yang menyeruak.

Oh. Rupanya hanya mimpi.

Aku bangun dan menghela napas. Lalu meraih ponsel yang layarnya berkelap-kelip.

Sebuah pesan. Danang.

Hidup dan berbahagialah, meski bukan dengan aku. Karena aku tidak bisa berpisah dari istriku. Maaf.”

Aku menelan ludah. Menggigit bibirku sendiri dan menangis.

Terus atau berhenti. Semesta telah menunjukkan tandanya. Maka aku tidak bisa ke mana-mana lagi.

Kulirik sebuah strip yang kukencingi tadi pagi. Dua garis merah.

Merah.

***

 

Visit Blog : http://noichil.wordpress.com

Surat Dalam Botol

Oleh : @fatwaningrumNa 

Hai, Kapten Bhirawa!
Ya, aku berbicara padamu, Kapten. Masih ingatkah kamu saat berjanji akan mengajakku keliling dunia mengarungi samudra? Aku selalu ingat, bahkan sering merapalnya seperti mantra. Saat itu kamu baru tahu bahwa aku bercita-cita hidup nomaden dan tinggal mengikuti arus laut, dan itu membuatmu terkejut. ‘Kita sehati!’
katamu. Aku hanya tertawa. Ekspresi matamu yang membulat dan gelengan kepalamu yang artinya berbeda dari umumnya manusia di sini membuatku terpesona.

Tapi kamu mengaku juga sangat mencintai kota ini, tempat dimana aku dilahirkan. Itu karena tugu pahlawan yang selalu mengingatkanmu pada kakekmu – beliau seorang pejuang, dan juga karena aku yang katamu banyak kesamaan denganmu. Aku bahkan tak sadar bahwa kita begitu mirip jika bukan kamu yang mengatakannya. Dan kuakui aku tersanjung, itu serupa pujian bagiku.

Bhirawa, jangan mengartikan surat ini sebagai surat cinta, karena kertas ini bukan sekedar itu. Jika surat ini telah sampai padamu, berarti sebentar lagi kau akan menemukanku. Atau, akulah yang telah menemukanmu. Kekasihmu yang selalu menunggu.

***

Alis laki-laki tegap itu berkerut. Dia tak mengerti apa yang tertulis dalam kertas itu. Bahkan dia ragu mengenali bahasanya. Namun rasa penasaran menggugahnya karena di surat itu tertulis namanya. Bhirava Rajesh Singh baru saja mengambil kertas itu dari botol yang terombang-ambing di laut tenang. Pita pengikatnya lah satu-satunya yang mencantumkan kalimat yang bisa dia mengerti: if you hadn’t found me, I would have found you.

Bhirava terdiam sejenak, lalu mengembalikan surat berwarna biru laut itu ke dalam botol, dan kemudian menyimpannya ke dalam sakunya. Setelah dia memakai kembali topi putihnya, dia melangkah mantap ke atas kapal. Kapten Bhirava sudah diperintahkan untuk berlayar ke tujuan selanjutnya: Surabaya, Indonesia.

 

Visit Blog : http://avife.com

 

I Love You, Mama

Oleh : @melctra

  

“Mama! Mama! Look!” teriakku sambil menarik-narik lengan baju Mama.

Mama menolehkan kepala. Seperti biasa, ia gusar. Aku tak peduli karena aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu. Jemariku yang berlumuran cat merah menunjuk ke arah kamar tidurku.

“Lihat, Mama. Bagus deh. Ayo lihat!”

“Raraaaaa!!! Apa-apaan sih kamu? Lihat, baju Mama kotor semua!” jerit Mama panik. Baju mama yang tadinya resik kini kotor berlumuran cat airku.

Tangan Mama terangkat. Aduh! Dijewernya telingaku kuat-kuat. Sambil menjewerku, mama terus berteriak, “Mama harus arisan, Rara! Sekarang Mama harus ganti baju lagi. Dasar anak bodoh!”

Aku tak berteriak kesakitan apalagi menangis. Aku anak kuat. Dulu, papa pernah bilang begitu. Tapi kadang mama seperti hantu di film-film. Wajahnya menakutkan, rambutnya awut-awutan. Mata Mama yang paling seram. Membelalak. Melotot, seperti tak bisa kenal sama aku.

“Tapi, Mama, Rara sayang banget sama Mama.” ucapku untuk menyenangkan Mama.

“Bohong! Kalau Rara sayang sama Mama, Rara nggak akan bikin Mama repot!”

Look, Mama. Rara sayang kok sama Mama. Lihat dulu!”

Kutarik tangan mama ke kamarku. Tanganku menunjuk ke arah dinding kamar yang kugambar besar-besar wajah mama yang cantik dan aku berdiri di sampingnya. Aku menatap mama sambil tersenyum. Mama pasti senang.

“Raraaaaa… O My Gooood!”

Tak menunggu lama, sebuah cubitan yang menyakitkan mendarat di lenganku. Kutatap Mama tak mengerti, kenapa ia tak menyukainya, padahal gambarku bagus sekali.

“Anak Nakal! Dinding kamar jadi kotor begini, Rara!”

Tamparan keras mengenai di pipi kananku. Seperti kesetanan, mama kini mendorong tubuhku, kuat sekali. Aku mundur ke belakang sampai menabrak kursi lalu… Duug! kepalaku terantuk sudut meja kayu.

Aduh, Sakit sekali.

Kusentuh belakang kepalaku. Basah. Kutatap telapak tanganku. Warnanya semerah warna cat air yang barusan kubuat menggambar di dinding kamar.

“Rara, bangun, Nak. Jangan buat Mama sedih.”

Aku mengerjapkan mata bingung. Mama kenapa menangis? Biasanyamama tak pernah menangis. Aku hanya tahu mama selalu kelihatan capek dan marah. Tapi sewaktu sedih pun mama tak pernah menangis. Aku ingin sekali menghiburnya, biar mama sayang padaku.

“Maafin Rara, Ma. Rara sayang sama Mama.”

Hanya itu yang kuingat keluar dari mulutku.Aku lalu tak ingat apa-apa lagi.

***

 “Mama capek, Rara. Tolong, Mama mau tidur, Sayang.” Mama tersedu.

No, Mama. Lagi! Lagi! Lagi!”

Aku tentu saja tak mau berhenti. Ini terlalu asyik. Mendengar Mama minta berhenti bermain, entah kenapa, aku jadi marah sekali. Kujambak rambut Mama yang indah dan menghentaknya kuat-kuat ke belakang. Akhirnya Mama mengalah. Ia jugamau berlari-lari, melompat-lompat berkeliling ruang tamu sambil menyanyikan lagu-lagu kesukaanku. Aku terkikik, menandak kegirangan di pundak Mama.

Iya, sekarang Mama baik sekali padaku. Mama menggendongku setiap hari di pundaknya, mengajakku berjalan-jalan, dan membiarkanku mengikutinya ke mana saja. Menyenangkan sekali bersama Mama yang seperti ini.

Aku sih tahu Mama sudah kelelahan. Tapi kalau Mama tak mau kujambak atau kupukul atau kugigit, sebaiknya mama tak boleh menolak kalau kuajak bermain. Karena aku kan paling sayang sama mama… ***

 

Visit Bloghttp://jejakmelctr.wordpress.com/

 

Selingkuh

Oleh : @EviSriRezeki

Sudah dua kali aku menemukan bekas lipstik di bajunya Anto. Apa dia berselingkuh? Tidak! Dia bukan lelaki seperti itu. Tapi usia pernikahan kami sudah menginjak tahun keenam. Katanya cinta hanya bertahan lima tahun. Bisa jadi dia dilanda kejenuhan.

“Ma, seragamku di mana?” tanya Anto dari seberang ruangan.

“Eh, oh, emmm… menggantung di belakang pintu kamar, Pah,” jawabku gelagapan.

Kuhampiri Anto yang celingak-celinguk kebingungan. Ah, suamiku masih saja begitu tampan. Sayang sekali dia hanya bisa menjadi satpam.

“Ini, Pah,” ucapku sambil menyerahkan seragamnya. “Malam ini lembur lagi?”

“Hmmm… sepertinya begitu. Sabar ya, Ma. Papah harus nyari tambahan uang buat kebutuhan anak kita.”

Aku menghela nafas panjang lalu berkata, “Baiklah. Hati-hati di jalan, ya. Selamat bekerja.”

***

Malam ini aku bertekad untuk mengikuti ke mana Anto pergi. Aku yakin kalau dia berselingkuh. Buktinya, barusan aku telepon ke tempat kerjanya, dia tidak pernah mengambil jadwal lembur. Lalu ke mana dia selama ini? Pasti menemui perempuan lain!

Itu dia, Anto muncul. Setengah jam lebih aku bersembunyi di dekat tempat kerjanya. Dia menaiki sebuah angkot. Aku harus bergegas mengikutinya.

Anto berhenti di sebuah kontrakan yang ramai. Eh, tapi kok banyak perempuan lalu lalang? Nah, kan dia berselingkuh! Eh, eh, tapi, tapi… kukucek mata untuk meyakinkan. Ya, Tuhan!

Aku harus memastikannya sendiri. Setengah berlari aku memasuki tempat itu. Mataku sibuk menyusuri ruang demi ruang untuk mencari suamiku. Sebuah seragam tergeletak sembarangan di sebuah kamar. Itu seragam milik Anto.

“Pah, apa yang sedang kamu lakukan?!” jeritku.

Anto yang sedang memulas pipinya dengan blush on terkejut. Kuas terjatuh dari tangannya. Dia segera berdiri mendekatiku dengan memakai gaun pendek berbelahan dada terbuka.

“Mama, kenapa bisa ada di sini?!” tanyanya panik. “Ma, dengar penjelasanku. Semua ini kulakukan demi keluarga kita!”

“Kamu… kamu…!”

Tak kuteruskan kata-kataku. Air mata sudah membanjir. Yang kulakukan hanya berlari. Tanpa sadar aku menyenggol bahu seseorang.

“Hati-hati dong, Cyiin jalannya. Pake mata!” hardik orang itu. ***

 

Visit Blog :    http://myfairytalemytale.blogspot.com

 

Impian Tak Berjudul

 Oleh : @rindrianie

“Kak, ibukota Jepang itu Tokyo, yah?”

“Iya. Dulu sih di Kyoto, tapi kemudian dipindahkan ke Tokyo.”

“Kalo ibukota Inggris?”

“London.”

“Jauh ya, Kak?”

“Dari mana? Dari Tokyo? Ya lumayan jauh. London itu kan di Eropa.

“Kalo dari terminal Cicaheum lebih jauh ya, Kak?”

Si Kakak tertawa hingga terguling-guling memeluk perut. Si Adik ikutan tertawa hingga terbatuk-batuk. Aku menatap mereka dalam senyum yang diam.

“Jadi, mau ke Jepang atau ke Inggris, nih?”

“Ke Jepang dulu aja, Kak. Aku kepengen lihat bunga Sakura.”

“Kalo mau lihat bunga Sakura harus pas musim semi perginya.”

“Iya, kalau musim dingin aku juga ngga kuat, Kak. Walaupun pengen juga sih lihat salju.”

“Padahal asyik lho, kalo ada salju. Kita tinggal bawa sirup dan gelas. Jadi deh, es serut kayak yang suka dijual Mang Rohim.”

Si Adik terbahak-bahak hingga pipinya memerah. Si Kakak tergelak-gelak hingga matanya menyipit. Aku segera menyeka air mata yang dengan kurang ajarnya tiba-tiba muncul.

“Trus nanti kita baru ke London, Kak. Aku kepengen lihat si penjaga istana berseragam merah bertopi hitam bulu-bulu itu, Kak.”

“Kalo di London, aku kepengen lihat Big Ben, Dik.”

“Nanti kita ketemu Mr. Bean ngga ya, Kak?”

“Itu kan cuma film, Dik. Dan kita sekarang cuma sedang berkhayal…”

Si Kakak cekikikan, diikuti si Adik yang juga ikutan senyam senyum. Lantas keduanya mulai berbaring, berpelukan, seperti tak pernah lelah bermimpi. Membuatku -entah kenapa- merasa menjadi ibu yang paling merana. Bagaimana mungkin mimpi-mimpi itu akan mewujud?

“Matikan lilinnya, Bu. Sayang, bisa dipake buat besok.” suara parau suamiku menghentikan lamunanku. Aku tahu lelaki ini pun diam-diam mengamati dialog mimpi tadi, dan sedikit terluka karenanya. Maka aku mengiyakan pintanya, lantas merebahkan diri di sampingnya.

Gulita sudah. Rumah kardus kami sunyi, membungkus cinta yang semoga tak akan mati, walaupun hanya sanggup hidup dalam mimpi yang tak berjudul. ***

Visit Blog : http://rindrianie.wordpress.com

Pulang

 Oleh : @vandakemala

Pukul 17.33 WIB

Senja mulai turun. Matahari sudah lelah bersinar dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke peraduannya. Semburat warna oranye memenuhi hampir seluruh angkasa, sekalipun siang tadi rintik hujan amat kerap menyapa. Ah, langit sore ini amat indah. Cantik.

Setiap sore, di waktu yang sama, aku selalu rajin menanti kepulangannya. Seperti halnya sore ini. Tepat di sebuah rumah bertingkat dua, dengan hiasan angka empat berwarna emas di pagarnya. Terkadang, aku bisa saja hanya duduk di sebuah kursi warna hijau yang ada di teras rumah, sambil mengarahkan pandangan ke jalan raya. Di lain waktu, aku bisa memilih berjalan-jalan di kebun mungil yang ada di halaman rumah kami. Beberapa tanaman anggrek kami sedang berbunga. Sekalipun tidak menguarkan wangi seperti bunga yang lain, bagi kami, anggrek itu selalu bisa menenangkan.

“Enggak masuk? Sudah mulai gelap lho.”

Aku menoleh. Ibunya berdiri di ambang pintu, memberiku sebuah senyuman. Beliau paham kebiasaanku dan selalu membiarkanku berlama-lama menunggumu pulang. Sesekali beliau menyapa dan menanyakan beberapa hal ringan kepadaku. Ibumu sungguh baik. Aku benar-benar dianggap seperti anaknya sendiri dan pada akhirnya, aku pun menganggap beliau seperti Ibuku sendiri.

Aku memberi sebuah senyum dan gelengan pelan. Beliau mengerti, menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam rumah.

Lampu merkuri di jalan depan rumah mulai menyala. Biasanya, dia datang tak lama setelahnya. Aku tersenyum, merindukan hangat pelukannya juga caranya menunjukkan perasaannya kepadaku. Dia selalu punya banyak cerita untuk diceritakan, tentang apapun itu, sebelum akhirnya kami terlelap dipeluk malam. Ah, cinta. Betapa cinta selalu bisa membuatmu rela melakukan dan mengenang hal apapun tentang orang yang kamu cintai. Iya, aku mencintainya, sebagaimana dia telah memberiku banyak cinta.

Lamat-lamat, aku mendengar suara kendaraannya mendekat. Kebiasaan menunggunya pulang selama beberapa tahun, membuatku hafal dengan suara khas dari mesin kendaraannya. Ditambah lagi, dia pasti akan membunyikan klakson, caranya untuk menyapa petugas keamanan yang poskonya hanya berjarak dua blok dari rumah kami. Tapi bagiku, bunyi klakson itu juga jadi pertandaku untuk menandai kedatangannya.

Nah, itu dia! Aku melongokkan kepalaku. Tak lama lagi, dia pasti menyapaku dengan suaranya yang lantang. Tunggu saja…

“Belang, kamu nungguin aku pulang lagi.”

Aku mengibaskan ekorku yang berwarna hitam legam, lalu membetulkan letak dudukku. Lewat pandanganku yang berbinar, aku membiarkannya mendapat jawaban dari pertanyaannya. Membiarkan orang yang sudah mencintaiku tanpa batas selama sebelas tahun untuk tahu bahwa aku pun mencintainya dengan kadar yang sama. Tepat setelah dia memasukkan kendaraannya ke halaman, dia pasti mendekatiku, menggendongku ke dalam dekapannya dan akhirnya membawaku masuk ke dalam rumah.

Aku memang tidak mampu berkata-kata, tapi dengan cara yang aku bisa, aku berusaha menunjukkan betapa aku mencintai wanita yang saat ini mendekapku dengan sayang.

Ah, iya, kenalkan. Namaku Belang. Seekor kucing gendut berumur sebelas tahun dengan bulu hitam putih yang selalu menunggu majikanku pulang kerja.

 ***

@vandakemala 2

“Jangan pisahkan dirimu dari binatang.”
“Biar apa, Ayah?”
“Biar kamu tidak sombong jadi manusia,” ujarnya sambil tersenyum.
                              –Dee, Supernova: Partikel

 

Visit Blog :  http://myredstrawberry.blogspot.com

 

 

Sang Pelindung

Oleh : @ighiw

 Sejak awal, aku memang telah ditakdirkan untuk melindungimu, tetapi bukan untuk melindungi hatimu.

Ada euforia saat kali pertama aku bertemu dengan kamu. Orang lain juga pernah merasakannya. Di situlah rasa bahagia, haru, dan rasa lain yang identik dengan keindahan bermuara. Karena rasa itu, aku merasa terlahir kembali.

Semua rasa itu semakin melangit saat kembara matamu berakhir padaku. Lalu, langit pun terasa semakin kromatis saat pilihan kamu jatuhkan kepadaku. Kurasakan euforia yang tak berkesudahan.

Sejak hari itu, aku jadi satu-satunya hal yang paling dekat denganmu. Duniamu mendadak dibagi denganku. Isi kepala kita berfusi. Sejak hari itu, apa yang kamu lihat bisa kulihat juga.

Aku menjadi satu-satunya pelindung yang bisa kau andalkan. Kadang, di tengah perjalanan melintasi bising kota, kamu selalu bercerita tentang apa saja. Kadang tentang masa lalumu, tentang bagaimana kamu jatuh hati pada sepeda motor yang setiap hari kita kendarai bersama, bahkan tentang gelisahmu saat ikan-ikan di akuariummu mati.

Tetapi, dari semua cerita yang mengalir lirih dari mulutmu dalam setiap perjalanan kita, yang paling membuatku tersentuh adalah kisah tentang cintamu pada seseorang. Seseorang yang kamu cintai sedalam-dalamnya, sepenuh-penuhnya, sehebat-hebatnya, tetapi kamu tidak pernah bisa mengungkapkannya.

Jujur, aku cemburu pada orang yang kamu maksud itu. Kamu sangat mencintainya, walaupun kamu bergeming dalam kepura-puraan. Kadang, aku ingin egois. Aku pelindungmu yang selalu menyayangi kamu, maka akulah yang seharusnya kamu cintai. Tetapi, tak ada yang bisa memaksakan kehendak hati orang lain. Aku sama sekali tak punya energi untuk menyulap hatimu agar berbalik mencintaiku.

Sampailah kebersamaanku denganmu di kilometer ke 2211. Di siang yang garang, pedih cinta datang menyerang, dan hatimu meradang. Orang yang selama ini kamu cintai habis-habisan masuk rumah sakit dalam keadaan koma. Malam sebelumnya, kamu memaki-makinya karena pekerjaannya beberapa minggu belakangan ini tidak tuntas. Sebagai supervisor, kamu pandai menyembunyikan rasa cinta mendalammu untuknya. Maka, dengan pikiran profesional, kamu memang sudah sewajarnya melakukan itu.

Sayangnya, dia tak setangguh kamu menghadapi badai rasa hati. Apalagi saat orang yang dicintainya membantai hatinya dengan caci-maki karena alasan pekerjaan. Dia limbung, sampai-sampai lengah saat menyeberang jalan. Sebuah bus yang ugal-ugalan tanpa belas kasihan menabraknya hingga tersungkur berdarah-darah di tengah jalan. Beruntung umurnya bisa diperpanjang, walau kini dia tak sadar sedang berada di pembaringan.

Aku tahu, kamu menyesal. Apalagi setelah dari buku hariannya kamu tahu bahwa akhir-akhir ini pikirannya sedang gusar karena dia mencintaimu. Sama dahsyatnya dengan rasa cintamu padanya. Huh, kamu dan dia membuatku bingung. Saling mencintai, tetapi tidak pernah ada titik temu.

Kamu menangis sepanjang jalan. Motor yang kita kendarai melaju tak tentu arah. Setiap orang yang sedang menyeberang, selalu kamu visualisasikan sebagai pujaan hatimu. Hatimu hancur, berdarah-darah, dan aku tak sanggup melindunginya. Ya, seharusnya aku bisa melindungi hatimu seperti aku melindungi kepalamu siang itu.

Di kilometer 2211 pada speedometer motormu, kamu menghindari seseorang yang sedang menyeberang. Karena itu, motor kita menabrak separator busway. Kamu dan aku terpental beberapa meter. Kamu beruntung, ada aku yang melindungi kepalamu, walaupun kini ragaku nyaris terbelah dua.

Dalam hitungan hari, kamu pulih, tetapi hatimu tidak.Orang yang kamu cintai telah pergi untuk selamanya. Hatimu berlubang. Aku berhasil melindungi kepalamu, tetapi tidak bisa melindungi rapuh hatimu.

Tapi, tenang saja. Time will heal. Kini, kepalamu dilindungi oleh helm lain penggantiku. Kupikir, kamu akan membuangku. Ternyata tidak. Di sebuah meja di kamarmu, aku kamu simpan baik-baik setelah dibersihkan.

Baiklah, ini kuanggap bentuk pengungkapan bahwa kamu juga mencintaiku, sang pelindungmu. ***

 

Visit Blog : http://kahfiez.blogspot.com

 

(Bukan) Untukku

 Oleh : @naztaaa

AKU
Hari ini aku bertemu lagi dengannya, duduk tak jauh dari tempatku berada. Seperti biasa, ia memesan semangkuk bakso dan es teh pada jam istirahat sekolah. Sesekali dia melirik ke arahku berada. Ah, dia membuatku tersipu.

 

RAFAEL
Aku tak menyangka akan bertemu dia di kantin, duduk tepat di hadapanku. Aku makan dengan canggung sambil sesekali melirik ke arahnya.

 

AKU
Dia sedang bermain basket di lapangan. Beberapa tembakan masuk ke ring dari jarak yang cukup jauh. Pantas saja kalau dia masuk dalam tim basket sekolah.
Bel masuk kelas menghentikan kegiatanku menikmati dirinya yang tengah bermandi peluh.

 

RAFAEL
Jantungku seperti ikut melompat bersama bola basket yang kutembakkan ke dalam ring. Dia duduk di pendopo sekolah, sibuk dengan blackberrynya. Baru sekali ini aku melihat dia duduk di sana. Apa dia sedang menonton permainanku? Kuharap…

 

AKU
Hari ini aku tidak bisa melihatnya. Seharian ini hanya di rumah saja tanpa melakukan apa-apa. Membosankan.

 

RAFAEL
Hari ini, seharian, aku tidak melihatnya. Iseng kutanyakan pada teman sekelasnya. Kata temannya, dia izin tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Sepanjang hari aku khawatir memikirkannya.

 

AKU
Gantian aku yang tidak melihatnya hari ini. Sejak tadi, aku tidak kemana-mana, hanya berada di dalam kelas sampai jam sekolah berakhir. Sebal.

 

RAFAEL
Hari ini dia masuk. Wajahnya terlihat masih pucat, tapi dia sudah baikan. Begitu yang kucuri dengar saat melewati dia dan temannya yang sedang ngobrol. Tumben dia tidak memegang blackberrynya…

 

AKU
Tidak terasa besok Valentine Day. Aku berharap ada cinta untukku…

 

RAFAEL
Besok adalah saatnya. Besok atau tidak sama sekali. Iya, aku akan menembaknya. Menyatakan perasaan suka pada gadis yang selama enam bulan ini mengirim sengatan-sengatan listrik kecil tiap kali aku melihatnya.

 

AKU
Hanya di rumah saja di malam yang seharusnya merasakan kasih sayang layaknya orang-orang itu.

 

RAFAEL
ARRRGGGHHH.. Dia menerimaku. AKU DITERIMA! Rasanya ingin melompat ke angkasa dan kembali lagi ke bumi. Sayangnya aku bukan Superman, jadi kubiarkan saja hatiku meletup-letup sendiri dengan bahagia.

 

AKU
Tuanku kembali dengan wajah merona, bukan karena blush on yang dipakainya. Aku tahu ini karena gejala alami dari tubuhnya. Oh tidak, aku ketinggalan sesuatu yang penting. Inilah akibatnya kalau dia tidak membawaku serta. Tuanku mulai bercerita panjang lebar kejadian di malam Valentine. Dengan siapa dia jadian? Oh.. Oh.. Jangan katakan. Tidak. Jangan dia. Jangan laki-laki pujaanku itu. Laki-laki yang selalu kulihat ketika aku dalam genggaman tangan tuanku. Dunia ini tidak adil. Aku benci. Benci menjadi sebuah benda mati yang katanya smart tapi tidak smart sama sekali. Jika aku pintar, aku bukanlah sebuah blackberry, tapi menjadi gadis impian laki-laki itu… ***

Visit Blog :   http://naztaaa.wordpress.com